Doing Business with the Sky: Success Stories Ir. Solah Athiya who shook the world through charity
Pernahkah Anda membayangkan sebuah skenario bisnis di mana keuntungan materi bukan lagi menjadi tujuan akhir, melainkan hanya sarana untuk mengejar rida Ilahi? Di tengah arus modernisasi yang mengukur segala sesuatu dengan materi, kisah hidup seorang insinyur asal Mesir bernama Ir. Salah Athiya (Sholeh Athiyah) hadir sebagai tamparan keras sekaligus inspirasi abadi tentang hakikat kekayaan yang sesungguhnya.

Ia adalah arsitek di balik "Syarikah Al-Khair" (Perusahaan Kebaikan), sebuah fenomena bisnis legendaris yang membuktikan bahwa memperbanyak mitra dengan Allah tidak akan pernah mendatangkan kebangkrutan.
Babak Awal: Perjuangan Kuliah dan Modal dari Kemiskinan
Kisah ini bermula di sebuah desa kecil bernama Tafahnah Al-Asyraf, Provinsi Daqahliyah, Mesir. Salah Athiya tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Namun, keterbatasan fisik dan materi tidak menyurutkan langkahnya untuk menempuh pendidikan tinggi. Bersama sembilan orang sahabat karibnya yang bernasib sama, Salah berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Al-Azhar.
Setelah lulus, kesepuluh sarjana muda ini dihadapkan pada realitas kehidupan yang pahit: pengangguran dan kemiskinan yang mencekik desa mereka. Alih-alih merantau dan menyerah pada keadaan, mereka berkumpul untuk merintis sebuah usaha.
Rencana mereka sangat matang, yaitu mendirikan sebuah perusahaan peternakan unggas dan produksi telur. Namun, ada satu kendala besar yang menghadang, yakni modal. Guna mengumpulkan modal awal, mereka terpaksa menjual barang-barang berharga yang tersisa, bahkan beberapa di antaranya rela menjual perhiasan istri dan tanah keluarga. Akhirnya, terkumpullah modal kecil untuk memulai langkah pertama.
Menemukan "Mitra Kesepuluh" yang Mengubah Segalanya
Saat menyusun akta pendirian perusahaan dan pembagian saham, masing-masing dari sembilan orang tersebut memegang bagian sebesar 10 persen. Salah Athiya kemudian mengajukan sebuah ide yang tidak biasa. Ia mengusulkan agar sisa 10 persen saham dialokasikan untuk "Mitra Kesepuluh".
Sahabat-sahabatnya terheran-heran dan bertanya, "Siapa mitra kesepuluh yang kamu maksud? Mengapa ia diberi saham tanpa menyetor modal?"
Salah Athiya menjawab dengan mantap, "Mitra kesepuluh itu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dialah yang akan menjaga perusahaan kita, memberikan keamanan, dan mengalirkan keberkahan. Imbalannya, 10 persen dari seluruh keuntungan bersih usaha ini akan kita sedekahkan untuk kepentingan umat."
Kesembilan sahabatnya menyetujui ide tersebut dengan penuh keyakinan. Kontrak bisnis unik itu pun ditandatangani di atas kertas, mengikat kerja sama antara manusia dan Sang Pencipta.

Keberkahan yang Melimpah dan Eskalasi Saham Langit
Bisnis peternakan yang mereka rintis ternyata berkembang dengan sangat luar biasa di luar nalar matematika manusia. Di saat peternakan lain di sekitar Mesir diserang wabah penyakit dan mengalami kerugian besar, peternakan milik Salah Athiya dan kawan-kawan tetap sehat dan menghasilkan keuntungan yang melimpah.
Melihat keuntungan yang terus melonjak, Salah Athiya kembali mengumpulkan para mitranya. Ia mengusulkan untuk menaikkan porsi saham untuk Mitra Kesepuluh. Dari 10 persen naik menjadi 20 persen, kemudian meningkat lagi menjadi 30 persen, hingga akhirnya menyentuh angka 50 persen.
Separuh dari seluruh keuntungan perusahaan tidak lagi masuk ke kantong pribadi para pendiri, melainkan langsung dialirkan untuk membangun peradaban di desa mereka.
Dengan dana sedekah tersebut, Salah Athiya dan para sahabatnya berhasil mengubah wajah desa Tafahnah Al-Asyraf yang dulunya miskin menjadi desa yang sangat maju:

Mereka membangun baitul mal untuk menyantuni janda dan fakir miskin.
Mendirikan sekolah dasar, menengah, hingga tingkat atas untuk anak-anak desa.
Menyediakan sarana transportasi kereta api gratis bagi para pelajar agar bisa mengakses pendidikan dengan mudah.
Puncaknya, mereka berhasil mendirikan beberapa fakultas cabang Universitas Al-Azhar di desa mereka sendiri sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya di tingkat pedesaan Mesir.
Tingkat kesejahteraan desa meningkat drastis hingga dikabarkan tidak ada satu pun penduduk di desa tersebut yang berhak menerima zakat (mustahik), karena semuanya telah berdaya secara ekonomi.
Akhir Hayat dan Warisan Abadi Sang Miliarder Sedekah
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Salah Athiya mengambil keputusan spiritual yang paling radikal dalam hidupnya. Ia menyerahkan seluruh sisa saham pribadinya kepada Allah. Ia mengubah status seluruh aset perusahaannya menjadi wakaf produktif untuk umat, sehingga ia sendiri tidak lagi memiliki harta pribadi secara hukum, melainkan hanya bertindak sebagai pengelola atau pelayan dari harta Allah.
Pada tanggal 11 Januari 2016, Ir. Salah Athiya mengembuskan napas terakhirnya, kembali ke haribaan Sang Pencipta.
Kematiannya memicu gelombang kesedihan yang mendalam di seluruh penjuru Mesir. Prosesi pemakamannya dihadiri oleh ratusan ribu orang, mulai dari para pejabat tinggi, ulama terkemuka Al-Azhar, hingga ribuan masyarakat kecil dan mahasiswa yang telah mencicipi kebaikan dari beasiswa dan fasilitas yang ia bangun. Foto-foto pemakamannya memperlihatkan lautan manusia yang menyemut, mengantarkan sang "Miliarder Sedekah" ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Kesimpulan: Sebuah Refleksi Orisinalitas Iman
Kisah Ir. Salah Athiya adalah bukti nyata dari kebenaran firman Allah bahwa sedekah tidak akan pernah mengurangi harta. Ia mengawali kariernya dari titik nol dengan keterbatasan modal, namun ia cerdas dalam memilih mitra bisnis.
Melalui kisah ini, kita diajak untuk merenungkan kembali tujuan kita dalam merintis usaha atau bekerja. Apakah kita hanya ingin memperkaya diri sendiri, atau kita berani melibatkan Allah secara nyata melalui jalur sedekah yang konsisten? Pada akhirnya, harta yang kita simpan sendiri akan lenyap, tetapi harta yang kita "titipkan" melalui tangan-tangan orang yang membutuhkan akan menjadi investasi abadi yang terus mengalir hingga kita tiada.