Di era digital yang serbacepat ini, standar kesuksesan sering kali bergeser pada angka-angka: jumlah pengikut di media sosial, saldo rekening, atau jabatan mentereng di perusahaan rintisan. Namun, dalam lini masa kehidupan seorang Muslim, ada satu parameter kesuksesan hakiki yang tidak boleh tergerus zaman, yaitu rida Allah melalui rida kedua orang tua.
Kisah berikut bukanlah adaptasi dari dongeng klasik yang usang, melainkan sebuah narasi modern tentang bagaimana ego seorang anak bisa membutakan mata hatinya, dan bagaimana hidayah selalu mengetuk pintu jiwa yang tersesat.
Bagian 1: Kilau Semu Ibu Kota
Faris (26 tahun) adalah seorang manajer proyek sebuah agensi digital terkemuka di Jakarta. Ponselnya tidak pernah berhenti berdering, menampung ratusan notifikasi pekerjaan. Di tengah kesibukan yang padat, ada satu nama yang paling sering diabaikannya: Ibu.
Sore itu, di sebuah kedai kopi berdesain minimalis, Faris sedang mendiskusikan presentasi besar bersama rekan kerjanya, Sarah. Tiba-tiba, layar ponsel Faris menyala, menampilkan nama ibunya yang menelepon dari kampung halaman di pinggiran kota. Faris langsung menggeser tombol merah, menolak panggilan tersebut untuk ketiga kalinya hari itu.
"Faris, itu ibumu menelepon lagi, kan? Mengapa tidak diangkat?" tanya Sarah dengan dahi berkerut.
Faris menghela napas panjang, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer. "Hanya masalah kecil di kampung, Rah. Ibu selalu mencemaskan hal-hal sepele yang sebenarnya bisa diselesaikan sendiri. Aku sedang mengejar tenggat proyek ini. Waktuku sangat terbatas."
Sarah menatap Faris lurus-lurus. "Sesibuk apa pun kamu, Faris, menyisihkan waktu dua menit untuk mendengar suara ibu tidak akan membuat kariermu runtuh."
Faris hanya mendengus, merasa bahwa urusan dunianya jauh lebih mendesak daripada sekadar mendengarkan petuah sang ibu. Tanpa disadarinya, sikap abai yang menumpuk perlahan-lahan telah menjelma menjadi kedurhakaan yang halus, sebuah bentuk pembangkangan modern yang kerap dibungkus dengan alasan "profesionalisme".
Bagian 2: Ketika Ego Menyakiti Hati
Puncaknya terjadi pada akhir pekan berikutnya. Tanpa memberi kabar, sang ibu nekat naik bus menuju Jakarta demi mengantarkan makanan kesukaan Faris dan memastikan kondisi kesehatan anak tunggalnya itu. Dengan pakaian sederhana dan tas kain yang tampak kusam, sang ibu tiba di lobi apartemen mewah tempat Faris tinggal.
Faris yang baru saja turun ke lobi bersama beberapa relasi bisnisnya tertegun melihat kehadiran ibunya. Alih-alih merasa rindu, rasa gengsi dan malu justru membakar dadanya.
Setelah para relasi bisnisnya pergi, Faris menghampiri ibunya dengan langkah tergesa-gesa dan raut muka masam.
"Ibu kenapa tiba-tiba datang ke sini tanpa memberi tahu Faris terlebih dahulu?" tanya Faris dengan nada tinggi, menahan amarah.
"Faris, Ibu sengaja datang karena telepon Ibu jarang kamu angkat. Ibu khawatir. Ini, Ibu bawakan rendang kesukaanmu," ujar sang ibu dengan senyum tulus, menyodorkan sebuah wadah plastik.
Faris melihat wadah tersebut dengan tatapan dingin. "Ibu, Faris sekarang sudah dewasa dan sibuk bekerja. Di sini semua makanan sudah tersedia secara daring. Ibu tidak perlu repot-repot datang dengan penampilan seperti ini ke tempat kerja Faris. Tindakan Ibu ini justru membuat Faris merasa terganggu dan malu di depan kolega."
Senyum di wajah sang ibu seketika pudar. Kata-kata Faris yang tajam laksana sembilu yang menyayat hati. Air mata mengambang di pelupuk mata senjanya, namun ia berusaha tegap.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bermaksud membuatmu malu. Ibu hanya rindu," ucap sang ibu bergetar, lalu perlahan meletakkan wadah makanan tersebut di atas meja lobi, berbalik, dan berjalan keluar dengan langkah gontai.
Bagian 3: Sentilan Ayat dan Ketukan Hidayah
Malam harinya, apartemen Faris terasa sangat sunyi. Wadah makanan dari ibunya masih teronggok di meja dapur.
Faris mencoba fokus pada laptopnya, namun entah mengapa, hatinya mendadak diselimuti rasa gelisah yang teramat sangat. Pekerjaan yang biasanya ia selesaikan dengan cepat kini terasa hambar.
Iseng, Faris membuka aplikasi Al-Qur'an di ponselnya. Pandangannya terpaku pada Surah Al-Isra ayat 23 yang tiba-tiba melintas di lini masanya:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya..."
Kalimat “janganlah engkau membentak keduanya” bergema berulang-ulang di dalam kepala Faris. Ia teringat nada suaranya yang tinggi di lobi sore tadi. Ia teringat bagaimana ibunya mengorbankan masa mudanya, bekerja keras agar Faris bisa menempuh pendidikan tinggi hingga sesukses sekarang. Namun, setelah kesuksesan itu berada di tangan, Faris justru menjadikannya sebagai tameng untuk menjauhkan diri dari sang ibu.
Air mata Faris menetes. Ego modernnya runtuh seketika di hadapan kebenaran firman-Nya. Kesuksesan finansial dan karier yang ia banggakan terasa tidak ada harganya sama sekali jika harus dibayar dengan tetesan air mata wanita yang melahirkannya.
Bagian 4: Bersimpuh di Ujung Sajadah
Tanpa membuang waktu, malam itu juga Faris mengambil kunci mobilnya. Ia berkendara membelah malam menuju kampung halaman, membiarkan semua notifikasi pekerjaannya terabaikan untuk sementara. Fokus hidupnya kini telah beralih pada hal yang paling krusial: memohon ampunan.
Menjelang subuh, Faris sampai di rumah masa kecilnya. Ia melihat cahaya lampu temaram dari dalam rumah. Melalui jendela yang sedikit terbuka, ia melihat ibunya sedang bersimpuh di atas sajadah, merapalkan doa dengan suara lirih yang terisak.
"Ya Allah, ampunilah anakku, Faris. Lindungilah dia dalam kesibukannya, jagalah kesehatannya, dan mudahkanlah segala urusannya..."
Mendengar doa tersebut, pertahanan hati Faris hancur total. Ibunya tidak mendoakan keburukan untuk anak yang telah menghardiknya; sang ibu justru menggunakan waktu sepertiga malamnya untuk memohonkan keselamatan bagi sang anak.
Faris membuka pintu, berlari kecil, dan langsung bersimpuh di kaki ibunya yang masih beralaskan sajadah.
"Ibu... Maafkan Faris, Bu. Faris khilaf, Faris telah durhaka kepada Ibu," isak Faris sambil memeluk erat kaki ibunya.
Sang ibu terkejut, namun dengan cepat mendekap kepala anaknya yang bersandar di pangkuannya. "Faris, anakku... Ibu sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Seorang ibu tidak akan pernah bisa menyimpan benci pada anaknya sendiri."
Kesimpulan: Refleksi Orisinalitas Bakti
Kisah Faris adalah cermin bagi kita semua yang hidup di era modern. Kedurhakaan tidak selalu berwujud pengusiran secara fisik seperti dalam legenda masa lalu. Di zaman sekarang, kedurhakaan bisa berwujud pengabaian, hilangnya rasa hormat yang dikemas dalam bentuk kesibukan, atau tutur kata yang meremehkan ketidaktahuan orang tua terhadap perkembangan teknologi.
Mari kita pastikan bahwa di tengah usaha kita mengejar kesuksesan duniawi, nama orang tua khususnya ibu tetap menjadi prioritas utama. Karena pada hakikatnya, tidak ada gunanya memanjat tangga karier setinggi langit jika pada saat yang sama kita meruntuhkan rida Allah yang berada di bawah telapak kaki ibu.